10 Distro Linux Terpopuler

5 January 2012 – 7:49 pm

Linux memiliki ciri khas yang sukar ditemukan di sistem operasi lain, yaitu keragaman. Keragaman ini terwujud dalam bentuk banyaknya distro (distribusi) Linux, yaitu paket lengkap berisi kernel (jantung sistem operasi), driver, serta seluruh aplikasi pendukungnya. Setiap distribusi biasanya memiliki pendukung setia dan selalu berpacu menjadi yang terbaik dalam menawarkan beragam features bagi penggunanya. Faktanya, kualitas setiap distro tidak sama. Hanya beberapa distro yang terlihat dominan di dunia Linux. Berikut ini akan kami berikan daftar distro Linux yang saat ini termasuk dalam kategori Distro yang terpopuler. Silahkan Anda menyimak daftar berikut ini. Yang Anda harus ketahui, daftar ini diambil dari Distrowatch yaitu website rujukan yang secara tidak resmi diakui sebagai data paling valid dalam melihat dinamika perkembangan distro Linux.

1. Mint (www.linuxmint.com)

Linux Mint dianggap terpopuler untuk saat ini, mengungguli Ubuntu yang notabene adalah “orang tuanya”, karena Mint dikembangkan berdasarkan Ubuntu. Mint menyediakan aplikasi lengkap pada distronya, mulai dari paket office, codec, hingga multimedia player. Jadi saat menggunakannya di awal, Anda tidak perlu terhubung ke Internet karena program yang dibutuhkan sudah termuat di installer.

Mint juga memperkenalkan konsep Mint Debian Edition. Dalam versi ini yang dipakai sebagai basis adalah Debian Testing. Keuntungannya adalah pada updatenya yang lebih cepat sehingga menyerupai model rolling release. Karena berbasis Debian, Mint Debian tidak kompatibel dengan repository Ubuntu. Kadang, ini membawa dampak positif karena banyak yang menilai kualitas software di repository Debian lebih bagus dari repository Ubuntu. Banyak juga yang menyebutkan bahwa Mint bisa menyalip Ubuntu karena Mint mempertahankan penggunaan Gnome versi 2. Sebagian user Ubuntu kurang nyaman dengan interface Unity yang dianggap berubah terlalu radikal. Ubuntu sendiri memiliki berbagai varian, seperti Kubuntu yang berbasis KDE, tetapi Mint masih yang terpopuler.

2. Ubuntu (www.ubuntu.com)

Distro ini berhasil menampilkan “image” ramah pengguna dan dukungan utility Synaptic (Software Center) yang memudahkan proses update. Selain itu, tersedia seri (Long Term Service) yang menyediakan update hingga 3 tahun. Rata-rata distro Linux memberikan update sampai dengan satu setengah tahun.

Ubuntu memiliki banyak varian, diantaranya Kubuntu (menggunakan KDE), Xubuntu (menggunakan XFCE), Lubuntu (menggunakan LXDE) dan seterusnya. Ubuntu juga memiliki banyak distro turunan, diantaranya Zentyal (distro untuk server) dan Backtrack yang dikenal sebagai distro spesialis dalam bidang hacking security.

3. Fedora (www.fedoraproject.org)

Ingin mencari teknologi terbaru? Fedora adalah pilihan utama. Menilik sejarah, Fedora (dulunya adalah Redhat Linux versi desktop) adalah yang pertama menerapkan NPTL (Native POSIX Threading Library), disusul dengan SELinux (Security Enhanced Linux). Terdapat juga inovasi lain seperti Zero Conf, KVM (Kernel Virtual Machine), dan sistem desktop Blue Curve yang menyatukan GNOME dan KDE dalam satu tampilan serupa. Fedora adalah wujud kerja sama komunitas open source yang didukung penuh oleh Redhat. Karena terkait erat dengan Redhat, cukup masuk akal jika Fedora paling awal menerima berbagai update teknologinya. Sekitar 30-40% developer Linux yang bekerja di suatu perusahaan adalah karyawan Redhat. Jadi, Fedora bisa diibaratkan sebagai “ruang pajang” dan “ruang testing” bagi beragam inovasi redhat.

Mungkin sedikit yang mengetahui bahwa Fedora adalah basis bagi RHEL. Sebagai contoh, RHEL versi 6 menggunakan basis Fedora 12. Ini dilakukan sebagai perwujudan kesinambungan pengembangan Linux.Versi Fedora yang dianggap stabil dan menerima respon positif kemudian ditetapkan sebagai fondasi, lalu disusul dengan penyempurnaan di berbagai aspek. Jadi, meskipun RHEL adalah produk komersial, keberadaannya tidak terlepas dari adanya kontribusi komunitas Fedora.

4. Debian (www.debian.org)

Stabil, jumlah paket yang sangat banyak (sekitar 29 ribu), dan dukungan komunitas yang tinggi adalah ciri khas distro Debian. Selain itu, distro tersebut kini memiliki paling banyak turunan. Bahkan pada rangking sepuluh besar banyak dihuni distro turunannya, seperti Ubuntu, Mint, PCLinuxOS. Distro Puppy untuk beberapa serinya juga bisa dibilang turunan Debian secara tidak langsung, mislany edisi Lucid Puppy. Selain itu, distro Debian sudah teruji dalam hal kualitas. Distro yang menyaingi mungkin hanyalah Slackware. perbedaannya, distro Slackware lebih terkesan “one man show”. Sementara Debian lebih menonjolkan aspek “kebersamaan”.

Debian juga satu-satunya distro Linux yang terbanyak mendukung beragam arsitektur di luar prosesor Intel. Tercatat ada ARM, MIPS, PowerPC, s390, HP-PA (Hewlwtt Packard Precision Architecture), dan beberapa lainnya. Ini tentunya memudahkan pengguna Debian untuk memakai satu platform OS yang sama di berbagai lingkungan hardware. tidak lupa pula project kfreebsd dimana distro Debian dikombinasikan dengan kernel FreeBSD. Jadi Anda serasa mendapat dua hal sekaligus, “rasa” aplikasi Linux namun performa FreeBSD. Sangat menarik bukan?

5. openSUSE (www.opensuse.org)

Framework Mono dan software Yast. Mono adalah penerapan.Net di Linux. Mungkin ini bukan suatu hal yang luar biasa, tetapi bagi para developer .NET, adanya Mono memungkinkan berjalannya program berbasis .NET. Dampaknya adalah memudahkan inter-operatibilitas antar Windows dan Linux serta platform lain yang mendukung .Net.

YaST adalah sistem administrasi terpadu yang hanya ada di SuSE dan openSUSE. hingga saat ini, bisa dikatakan YaST adalah tool administrasi yang sangat berguna bagi para administrator. Dengan beberapa klik mouse, tugas yang terbilang rumit, seperti mempersiapkan virtual machine Xen atau setup cluster fail over berbasis DRDB bisa dikerjakan dengan mudah! Selain itu, dukungan hardwarenya pun cukup bagus. Terutama pada masa awal bangkitnya distro-distro Linux, SuSE yang selangkah didepan mendukung hardware-hardware yang ada di pasaran, sementara distro lain perlu waktu lebih lama.

Setelah sebelumnya kita membahas distro Linux Mint, Ubuntu, Fedora, Debian, dan openSuse, kini kita akan melanjutnya membahas distro Linux yang lain.

6. Arch (www.archlinux.org)

Pada distro ini, rolling release dan sistem instalasi dikendalikan sepenuhnya oleh pengguna (hanya meng0install sesuai keperluan) sehingga cocok untuk membuat sistem yang “ramping”. Rolling release memungkinkan Arch selalu terupdate dengan software terbaru tanpa harus menunggu rilis versi distro berikutnya.

Arch Linux bisa dikatakan sebagai distro Gentoo generasi baru, namun minus features compile software. Arch memaketkan aplikasi siap install, sementara Gentoo memaketkan source dari aplikasi sehingga harus dicompile terlebih dahulu. Dengan semakin majunya sistem komputer, proses compile software dianggap tidak lagi memberikan keuntungan signifikan dan di sisi lain dianggap kurang praktis. Pengembang Arch menyadari hal ini, namun demikian Arch tetap menyediakan opsi untuk menginstallnya via source aplikasi. Source aplikasi bisa di download dari ABS (Arch Build System) dengan bantuan software, seperti packer. Opsi instalasi via source tersebut terutama menjadi solusi jika software yang ingin diinstall belum masuk repository resmi dari Arch Linux.

7. PCLinuxOS (www.pclinuxos.com)

Mantan jawara DistroWatch ini menerapkan konsep mirip Ubuntu (Mint), yaitu dengan memoles Debian agar lebih mudah digunakan. Bedanya, PCLinuxOS berbasiskan Mandrake dan menggunakan KDE, sementara distro lain banyak yang beralih ke GNOME. Namun, guna memenuhi kebutuhan user, dirilis juga versi lain yang berbasis XFCE, LXDE, dan OpenBox. Hal unik pada PCLinuxOS adalah penggabungan (kombinasi) sistem manajemen paket RPM dan apt. Lebih tepatnya, paket aplikasi di PCLinuxOS menggunakan format RPM, tetapi mekanisme instalasi menggunakan APT.

8. CentOS (www.centos.org)

Kestabilan dan performa yang setara RHEL (redhat Enterprise Linux) merupakan keunggulan distro ini. Implementasi RHEL yang sudah diakui di lingkungan enterprise menjadikan CentOS sebagai alternatif “gratisan” RHEL yang sangat menarik. Ini semua berkat usaha tim CentOS yang mengcompile ulang source dari berbagai paket program RHEL dan menyingkirkan berbagai copyright content spesifik dari distro RedHat.

Yang tidak kalah menarik adalah dukungan update hingga 7 tahun. Ini artinya, Anda bisa terus menerus memakai sistem yang sama tanpa perlu meng-install ulang. Sebagai perbandingan, Ubuntu server edisi LTS saja baru mencapai rentang dukungan kurang lebih 5 tahun. Para administrator sistem tentu akan lebih “lega” karena bug software akan terus diperbaiki selama masa itu. Kekuarangan dari CentOS adalah update-nya yang lebih lambat dari RHEL. Ini terjadi karena pengembang CentOS perlu waktu untuk melakukan rekompilasi dari update yang dikeluarkan oleh RedHat sekaligus mengujinya. Jadi, misalkan Apache server yang dipaketkan oleh RedHat 5.6 butuh waktu diperbaiki selama 3 hari, boleh jadi CentOS baru dirilis dua minggu kemudian.

9. Puppy (www.puppylinux.com)

Puppy memberi nyawa kempada pada PC Pentium lama kita. Puppy didesain agar tidak membutuhkan resource yang banyak, baik dari sisi RAM, prosesor, atau graphics card. Untuk itu, Puppy membekali diri dengan beragam aplikasi yang tidak rakus  resource. Sebagai contoh, Abiword dan Gnumeric sebagai alternatif paket Open Office, Midori sebagai web browsernya, dan aplikasi alternatif lainnya.

Puppy memiliki mode untuk berjalan sepenuhnya di RAM tanpa harus mengakses hard disk. Nilai plus lainnya, jika kita ingin sistem Puppy kembali seperti awal, kita cukup me-rebootnya. Cara ini efektif untuk sistem yang rentan masalah, misalnya percobaan aplikasi versi beta. Selain diburn ke CD, Puppy memiliki file image yang bisaditulis ke flash disk. Alternatif ini bisa lebih mempercepat operasional Puppy. Anda pun memiliki opsi untuk menyimpan perubahan seperti setting desktop ke disk agar saat Puppy di restart, seluruh setting dibaca ulang dan kondisi sistem dikembalikan persis saat Anda terakhir men-shutdown komputer.

10. Mandriva (www.mandriva.com)

Sebelum Ubuntu menjadi populer, Mandriva adalah jagonya. Distro ini menggabungkan dua distro yaitu Mandrake dan Connectiva. Distro ini berasal dari kalangan Linux di Perancis. Sayangnya, masalah finansial hingga menjurus kebangkrutan menghambat perkembangannya. Mandriva memiliki sistem konfigurasi bernama DrakConf yang mudah dipahami pengguna dengan beragam tingkat kemahiran. Drankconf bisa dianggap pesaing kuat dan YaST yang diusung distro openSUSE.

Selain itu, Mandrake menggunakan sistem paket manager urpmi yang bisa disejajarkan dengan apt-get milik Debian. Untuk aspek ini, Mandrake sedikit menyalib Redhat/Fedora pada sekitar satu dasawarsa lalu. Saat itu, masalah dependency (ketergantungan antarpaket aplikasi) adalah masalah yang biasanya diselesaikan secara manual. Namun berkat urpmi, pengguna Mndriva dengan cepat membereskannya. Sebagai catatan, Mandrake/Mandriva bisa dibilang cukup setia dengan desktop environment KDE sebagai default.

Oleh: Mulyadi/CHIP

You must be logged in to post a comment.